Selasa, 08 Mei 2012

Pesan Dakwah di Medan Ilmu


Pesan Dakwah di Medan Ilmu


Dakwah bukan kewajiban satu lembaga atau instansi saja, melainkan kewajiban setiap Muslim, termasuk mahasiswa. Banyak pe-er yang harus digarap Lembaga Dakwah Kampus.

Posisi kampus yang sangat strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan, semua orang tahu. Tapi, bagaimana peranannya di masa sekarang dan akan datang dalam pengembangan dakwah? Nati dulu. ''Kampus adalah medan ilmu, bukan medan dakwah,'' celetuk seorang mahasiswa. Betul, kampus adalah medan ilmu. Namun, ''Kampus juga merupakan lembaga yang strategis untuk mencetak kader dan pengembang dakwah di masa mendatang,'' ujar Ir Alimuddin Yasir A Lajju K MM MT, Ketua Badan Eksekutif Koordinasi Nasinoal (Bekornas) Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BK-LDK.

''Dari merekalah kemudian dakwah ideologi ini berjalan, dakwah untuk menyadarkan umat,'' ia menambahkan. Dengan penyadaran umat ini, maka akan terjadi perubahan di dalam masyarakat. Alimuddin yang juga dikenal sebagai mantan aktivis dakwah kampus LDK Universitas Muslim Indonesia Makassar mengungkapkan, sebagai seorang Muslim, mahasiswa tidak mungkin lepas dari kewajiban berdakwah.

Ir Fahmi Lukman MM MHum, mantan aktivis dakwah DKM Unpad, menambahkan, dalam hal kewajiban melakukan dakwah, bukanlah merupakan kewajiban satu lembaga atau organisasi tertentu. ''Adalah kewajiban bagi setiap kaum Muslimin di manapun ia berada,'' ujarnya. Apa pun status dan pekerjaannya, baik sebagai pedagang, petani, buruh, karyawan, maupun direktur, pejabat pemerintahan termasuk mahasiswa bahkan kepala negara, semua mempunyai kewajiban dan tanggungjawab yang sama dalam mengemban dakwah Islamiyah.

Menurut Fahmi, tanggungjawab umat Islam dalam mengemban dakwah dapat dibagi menjadi dua. Pertama, dakwah merupakan tanggungjawab sekelompok umat dan dilakukan secara berjamaah. Kedua, dakwah merupakan tanggungjawab setiap individu baik pria maupun wanita dan dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. ''Dalam kerangka mikro, dakwah berpusat di kampus dengan mahasiswa yang ada di dalamnya,'' ujar Alimuddin. Sementara dalam kerangka makro, mahasiswa harus memperlebar sayap agar yang lain terangkul.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ridha Salamah, mengatakan, mengatakan, struktur sosial masyarakat sangat memberi peluang bagi komunitas kampus untuk mengendalikan perubahan sosial di tengah masyarakat. ''Peluang tersebut mestinya dapat memberikan suasana kondusif bagi lahirnya generasi agent of change dari kampus,'' katanya.

Menurut dia, komunitas kampus sebagai kelompok intelektual diharapkan mampu membawa perubahan masyarakat untuk memwujudkan tatanan hidup sebagaimana apa yang tertera dalam Alquran dan hadis. ''Dalam kehidupan sehari-hari Islam adalah problem solving, tak sekedar menata kehidupan ritual saja,'' kata Ridha.

Demi membantu membentuk generasi agent of change itulah, Lembaga Dakwah Kampus mengambil peran. Lembaga Dakwah Kampus adalah organisasi keislaman resmi yang membawahi semua aktitas kegiatan Keislaman di kampus masing-masing. Lembaga Dakwah Kampus (biasanya sebutannya berbeda-beda di masing-masing kampus) bertanggung jawab kepada Pembantu Rektor III dalam kegiatannya. Organisasi ini biasanya membawahi kepengurusan Masjid Kampus, Seksi Kerohanian Islam Senat atau Jurusan dan kegiatan-kegiatan Islam lain yang berkenaan dengan mahasiswa.
Kita masih ingat, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang mencuat namanya di tahun 1998 -- menjelang tumbangnya rezim Orde Baru -- lahir dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus ke-10 yang berlangsung di Malang. Pembentukan KAMMI ini adalah salah satu respon Forum Lembaga Dakwah Kampus dalam menanggapi masalah-masalah aktual di Tanah Air. Kesatuan aksi ini diharapkan dapat menyatukan visi mahasiswa Muslim dalam menuntut adanya reformasi politik, ekonomi dan kultur (moral). Setelah KAMMI, geliat LDK nyaris tak terdengar lagi.

Benarkan LDK sudah kehilangan gaungnya? Dalam Simposium Nasional Lembaga Dakwah Kampus yang digelar selama tiga hari (9-12/12), mencuat berbagai persoalan dalam pengelolaan dakwah kampus. Sejumlah langkah juga digariskan, mulai dari persoalan masih adanya larangan berjilbab hingga pembendungan paham liberalisme. Menurut Aldina Safitri dari BK-LDK Priangan Barat, sejumlah pe-er dakwah kampus menuntut upaya penyelesaian segera. Ia mencontohkan masalah liberalisasi pemikiran secara umum. ''Termasuk liberalisme pemikiran mengenai feminisme,'' ujarnya.

Masalah busana Muslim (jilbab) juga diakuinya masing menyimpan masalah. Di kampus-kampus yang mempunyai ikatan dinas, katanya, lebih sulit mengenakan busana Muslimah. ''Memang sudah ada surat keputusan yang membolehkan, cuma tidak tersosialisasikan sehingga kemudian orang-orang yang di kampus yang ingin mengenakan busana Muslimah tetap ada kendala,'' ujarnya. Ia mengaku, dalam pertemuan kemarin forum menyepakati dakwah adalah kewajiban setiap mahasiswa Muslim. Karena LDK menjunjung tinggi ajaran Islam yang pantang berdakwah dengan kekerasan, maka dakwah di kampus pun akan dilakukan dengan 'sejuk'.

Semua isu yang diangkat, kata dia, dipersempit hanya ke dalam isu-isu di kampus. ''Karena kita organisasi dakwah kampus, jadi disempitkan dengan adanya kampanye kampus Islami. Jadi, kita tuh ingin menyampaikan bahwa di kampus itu bisa misalnya busana Muslimah bisa dipakai,'' ujarnya. Masalah kapitalisme pendidikan juga diangkat. ''Karena peran kita masih sebagai mahasiswa dan merasakan ketika membayar biaya kuliah sangat mahal, maka kita mencoba untuk mencari terobosan mengatasi hal ini,'' ujarnya.

Dalam pandangan Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor KH DR Didin Hafidluddin MSc, kegiatan yang dilakukan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang merupakan bagian dari unit kegiatan kerohanian, cukup positif. LDK sendiri berfungsi untuk menambah pengetahuan keislaman para mahasiswa agar mereka mendapatkan pemahaman Islam yang lebih komperhensif. ''Yang kedua, LDK merupakan medium pembelajaran bagi para mahasiswa untuk melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat.'' ''Tentu saja kita berharap kegiatan dakwah yang mereka lakukan dalam kerangka, pertama keberpihakan kepada kaum muslimin. Yang kedua, dalam kerangka penajaman visi mereka ketika mereka sudah menjadi sarjana. Jadi, ada kaitannya dengan aspek pembinaan diri mereka sendiri dan juga ada kaitannya dengan pembangunan masyarakat.''

Menyinggung tentang kelompok-kelompok usrah yang ada di kampus-kampus, menurut kyai Didin baik-baik saja, karena mereka ingin kelompok-kelompok pengajian dalam jumlah yang kecil, sehingga lebih terarah, lebih terukur dan lebih terkontrol pelaku-pelaku mereka bersama teman-temannya. ''Yang perlu dihindari adalah sikap-sikap yang dirasakan ekslusif dan juga sikap-sikap yang seolah-olah kebenaran itu datang dari kelompok mereka saja.''Ia sendiri mengakui, gejala-gejala ke arah sana selalu ada. ''Tugas LDK dan kita semua untuk meluruskannya secara hikmah (bijaksana),'' ujarnya.

Pacaran? Pikir Lagi, Deh!


Pacaran? Pikir Lagi, Deh!

Pacaran, sepertinya telah dinobatkan oleh remaja saat ini sebagai satu-satunya ekspresi cinta kepada lawan jenis. Otomatis ikatan baku syahwat ini sedikit banyak mempengaruhi jalinan persahabatan cewek-cowok. Makin sulit ditemukan hubungan dekat remaja-remaji yang murni pertemanan. Selaluuu aja ada benih-benih cinta di hati yang tersemai tanpa mereka sadari. Nggak heran kalo banyak remaja yang terprovokasi oleh komplotan Project Pop dan Chrisye dalam hits terbaru mereka, ‘burkat' Buruan deh katakan …. Makanya Yovie dan Nuno juga nggak tahan untuk bilang, ‘ inginku…tidak hanya jadi temanmu…ataupun sekadar sahabat '. Pengenya jadi apa dong?

Pacar. Yup, status pacar yang banyak diburu kaum jomblo sebagai simbol kemenangan dan kebanggaan. Begitu pentingnya status ini hingga dijadikan ‘mata pelajaran' rutin oleh media massa bagi para pemirsanya. Walhasil, para pelajar berseragam putih biru donker pun menjadikan tempat belajarnya sebagai Sekolah Mencari Pacar (SMP). Parah tenan iki!

Sobat, banyak remaja yang ngerasa kalo jadi pacar atau punya pacar bikin hidup terasa lebih indah. Katanya sih, mereka udah nemuin soulmate alias belahan jiwanya. Seseorang yang memanjakan perasaan cintanya; yang menjaga dan melindunginya; yang begitu perhatian dan peduli padanya; yang menyediakan a shoulder to cry on ; yang mengulurkan tangannya saat salah satunya down ; hingga rela berkorban untuk memenuhi permintaan sang buah hati. Pokoknya romantis abis!

Selanjutnya, hari-hari mereka lalui dengan kebersamaan. Acara jalan bareng sambil gandengan tangan atau mojok berdua untuk saling bertukar cerita jadi menu wajib. Di kampus, sekolah, mal, halte, bioskop, atau di bawah guyuran hujan nggak masalah. Kalo nggak bisa jalan bareng, minimal mengobral kata-kata cinta via SMS. Inilah penyakit orang kasmaran. Enggan berpisah walau sesaat. Bawaannya kangen mulu. Padahal doinya cuma permisi ke toilet. Waduh!

Tapi sobat, apa bener pacaran itu selamanya indah?

Banyak rugi di balik pacaran

Kalo diperhatiin sekilas, bisa jadi orang mengganggap pacaran itu nggak ada ruginya. Padahal, banyak juga lho ruginya. Makanya jangan cuma sekilas merhatiinnya. Nggak percaya? Simak deh poin-poin berikut:

1. Rugi waktu

Sobat, coba kamu iseng-iseng nanya ke temen yang pacaran, berapa banyak waktu yang dia berikan untuk pacarnya? A. satu jam B. dua jam C. satu hari D. satu minggu (kayak soal ujian aja pake multiple choice ). Jawabannya: nggak ada yang cocok! Sebab ketika ikatan cinta di antara mereka diucapkan, masing-masing kudu terima konsekuensi untuk ngasih perhatian lebih buat sang pacar. Itu berarti, harus stand by alias siap setiap saat jika diperlukan doi (sopir taksi kaleee!). Ini yang bikin repot.

Gimana nggak, waktu yang kita punya nggak cuma buat ngurusin sang pacar. Emang sih teorinya nggak seekstrim itu. Biasanya mereka mencoba saling mengerti kalo kekasihnya juga punya kepentingan lain. Tapi kalo masing-masing minta dimengerti, bisa-bisa muncul sikap egois. Merasa dirinya paling penting dan paling berhak untuk diperhatikan. Ending -nya, teori dan praktek sangat jauh panggang dari api. Tetep aja mereka terpaksa ngorbanin waktu untuk sekolah, kantor, keluarga, atau teman sebaya biar doi nggak ngambek. Kalo sudah begini, demi mempertahankan pacaran, urusan lain bisa berantakan. Betul?

2. Rugi pikiran

Sehebat-hebatnya manusia mengelola alokasi pikiran dan perhatian untuk ngurusin hidupnya, belum tentu dia mampu mengendalikan rasa cintanya. Asli. Ketika kita jatuh cinta, nggak gampang kita mikirin urusan laen. Semua pikiran kita selalu mengerucut pada satu objek: Pacar. Mau ngapain aja selalu teringat padanya. Seperti kata Evi Tamala, ‘ mau makan teringat padamu…. mau tidur teringat padamu…lihat cheetah teringat padamu…. ' Ups! Sorry , jangan ngerasa di puji ya. Gubrak!

Nggak heran kalo sitaan pikiran yang begitu besar dalam berpacaran bisa bikin prestasi belajar menurun. Itu juga bagi yang berprestasi. Bagi yang nilainya pas-pasan, bisa-bisa kebakaran tuh nilai rapot. Mereka sulit berkonsentrasi. Meski jasadnya ada dalam kelas belum tentu pikirannya nangkep penjelasan dari guru. Yang ada, pikirannya tengah melanglang buana ke negeri khayalan bersama sang permaisuri pujaan hati. Dan nggak akan sadar sebelum spidol atau penghapus whiteboard mendarat dengan sukses di jidatnya.

3. Terbiasa nggak jujur

Lucu. Kalo kita ngeliat perilaku standar remaja yang lagi kasmaran. Di rumah dia uring-uringan karena sakit perut (tapi bukan diare lho), tapi akibat makan cabe tapi lupa makan goreng bakwannya karena saking asyiknya nonton Dora the Explorer . Sang ibu pun terpaksa telpon ke sekolah untuk minta izin. Menjelang siang, tiba-tiba pacar telpon. Nanyain kabar karena khawatir. Terus dia bilang, ‘sayang ya kamu nggak sekolah. Padahal nanti siang aku minta di antar ke toko buku terus hadirin undangan temenku yang ulang tahun di KFC…'

Tak lama berselang, keajaiban terjadi. Tiba-tiba sakitnya sembuh dan siap nganterin doi. Padahal sebelum ditelpon pacarnya, sang ibu minta tolong dibeliin minyak tanah di warung sebelah rumah, jawabnya: ‘ nggak kuat jalan Bu. Kan lagi sakit '.

Ini baru contoh kecil. Seringkali orang yang pacaran secara otomatis berbohong, agar terlihat baik bin perfect di mata pacar.

4. Tekor materi

Sobat, dalam berpacaran, keberadaan materi sangat menentukan mati hidupnya itu hubungan. Meski ngakunya nggak begitu mentingin materi, tetep aja kalo nraktir bakso di kantin sekolah atau nonton hemat di twenty one kudu pake duit.

Yang bikin runyam, kebanyakan dari remaja yang berpacaran perekonomiannya sangat tergantung dengan jatah yang dikasih ortu. Pas lagi ada duit, jatah uang saku sebulan ludes dalam hitungan jam di malam minggu pertama setiap bulan. Kalo lagi nggak punya duit sementara pacar ngajak jalan, bisa nekat mereka. Nilep uang SPP atau terlibat aksi kriminal. Repot kan?

Nah sobat, ternyata pacaran tak selamanya indah. Ada juga ruginya. Banyak malah. Rasanya nggak sebanding dong kalo kita harus kehilangan waktu luang, prestasi belajar, teman sebaya atau kedekatan dengan keluarga, karena waktu, pikiran, tenaga, dan materi yang kita punya, banyak dialokasikan untuk sang pacar. Belum lagi dosa yang kita tabung selama berpacaran. Padahal pacar sendiri belum tentu bisa mengembalikan semua yang kita korbankan ketika kita kena PHK alias Putus Hubungan Kekasih. Apalagi ngasih jaminan kita selamat di akhirat. Nggak ada banget tuh. Rugi kan? Pasti, gitu lho!

Pacaran, dilarang masuk!

Sobat muda muslim, meski dalam al-Quran tidak terdapat dalil yang jelas-jelas melarang pacaran, bukan berarti aktivitas baku syahwat itu diperbolehkan. Pacaran di- black list dari perilaku seorang muslim karena aktivitasnya, bukan istilahnya.

Orang pacaran pasti berdua-duaan. Padahal mereka bukan mahram atau suami-istri. Yang kayak gini yang dilarang Rasul dalam sabdanya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Kehadiran pihak ketiga alias setan sering dicuekin oleh orang yang lagi pacaran. Padahal bisikannya bisa bikin mereka gelap mata bin lupa diri. Cinta suci yang diikrarkan lambat laun ber- metamorfosis menjadi cinta birahi. Ujung-ujungnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas KNPI alias Kissing , Necking , Petting , sampe Intercousing . Dari sekadar ciuman hingga hubungan badan. Naudzubillah min dzalik ! Makanya Allah Swt. telah mengingatkan dalam firmanNya:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isrâ [17]: 32)

Kalo masih ngeyel dengan peringatan Allah Swt. di atas, dijamin kesengsaraan bakal menimpa kita. Banyak kok fakta yang berbicara kalo gaya pacaran sekarang lebih didominasi oleh penyaluran hasrat seksual. Akibatnya, secara tidak langsung pacaran turut membidani lahirnya masalah aborsi, prostitusi, hingga penyebaran penyakit menular seksual. Karena itu, pacaran dilarang masuk dalam keseharian seorang muslim. Akur? Kudu!

Agar cinta nggak bikin sengsara

Sobat muda muslim, perlu dicatet kalo Islam melarang pacaran bukan berarti memasung rasa cinta kepada lawan jenis. Justeru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya tepat pada sasaran. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia dalam rangka melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab alias garis keturunan. Karena itu hanya satu penyaluran yang diridhoi Allah, dicontohkan Rasulullah, dan pastinya tepat pada sasaran. Yaitu melalui pernikahan. Rasulullah saw bersabda: “Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang sudah mempunyai bekal untuk menikah, menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat memejamkan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum mempunyai bekal untuk menikah, berpuasalah, karena puasa itu sebagai benteng baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Untuk mengendalikan rasa cinta pada diri manusia, Islam juga punya aturan maen yang meminimalisasi fakto-faktor pembangkit rasa itu. Secara umum, interaksi antara pria dan wanita dalam Islam hanya diperbolehkan dalam aktivitas yang mengharuskan kerjasama di antara mereka. Seperti ketika jual beli di pasar, berobat ke dokter, belajar di sekolah atau kampus, bekerja di kantor, dsb. Dengan catatan, ketika aktivitas di atas selesai, maka masing-masing kudu kembali kepada habitatnya. Nggak pake acara curi-curi kesempatan berduaan sehabis sekolah bubar, mau pergi ke pasar, atau pas berangkat kerja.

Kalo pas lagi ada keperluan mendesak dengan lawan jenis, kita bisa ajak teman biar nggak berduaan. Selain itu, kita juga diwajibkan menjaga pandangan biar nggak jelalatan ketika bertemu dengan lawan jenis. Sebab jika pandangan kita terkunci, sulit mengalihkannya. Seperti kata A. Rafiq, ‘ lirikan matamu…. menarik hati… ' (dangdut terus neh! Tadi Evi Tamala. Hihihi..)

Nggak ketinggalan, Islam juga mewajibkan muslimahnya untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga suaranya agar tidak mendesah bin mendayu-dayu ketika berkomunikasi dengan lawan jenisnya. Sebab bisa memancing lawan jenis untuk berinteraksi lebih jauh.Wah, di sinilah perlu jaga-jaga ya.

Sobat muda muslim, selain dosa, ternyata pacaran juga banyak ruginya. Makanya kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti menikah. Nggak papa kok masih muda juga. Tapi kalo ngerasa belum mampu, kamu bisa rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau kan? Mau doooong! Siip.. dah!

Nikmati Cinta Tanpa Pacaran


Nikmati Cinta Tanpa Pacaran   


Cinta tak pernah bosan untuk diobrolkan. Urusan cinta pun tak pupus oleh waktu, ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Asyik untuk dibahas, tak lelah untuk menuliskannya, dan getol untuk mendiskusikannya. Karena cinta memiliki keunikan dan sekaligus “keajaiban”.

Uniknya cinta bisa dilihat dan dirasakan dari berbagai sisi. Paling nggak neh, cerita tentang cinta yang berakhir bahagia sama nikmatnya dengan mendengar kisah duka karena cinta. Selain unik, cinta memang “ajaib”. Bisa mengobati rasa rindu, mampu melicinkan perasaan, dan juga menumbuhkan kreativitas yang tak pernah ada habisnya.

Nah, bicara tentang cinta, ada satu fenomena yang menarik dan perlu mendapat perhatian dari kita semua. Sepertinya sebagian besar dari kita selalu merasa “gatal” bahwa jika cinta tak diekspresikan dengan aktivitas mencintai, akan berakhir dengan kegelisahan. Itu sebabnya, jangan heran jika akhirnya banyak yang kabur dalam memaknai cinta. Banyak yang gelap mata, dan nggak sedikit yang miskin ilmu. Dikiranya mengekspresikan cinta, ternyata malah menggeber nafsu. Padahal, cinta tak sama dengan aktivitas mencintai. Tak berbanding lurus pula. Tapi kenapa harus dipaksakan untuk disamakan?

Guys , sejatinya cinta tetap bisa tumbuh dan terpelihara meski tak diekspresikan dengan aktivitas mencintai. Itu sebabnya pula, cinta tetap ada meski tanpa diwujudkan dengan pacaran. Karena cinta memang beda dengan pacaran. Buktinya banyak orang jatuh cinta, dan nggak sedikit yang memendamnya. Mereka cukup merasakan cinta di dalam hatinya. Entah karena tak kuasa mengatakannya kepada orang yang dicintainya, atau memang sengaja ingin memelihara dan merawatnya sampai pada suatu saat di mana kuncup itu menjadi mekar dan berbunga di taman hatinya (duilee...).

Dua alasan tadi tak perlu dipertentangkan. Karena yang terpenting adalah bahwa tanpa diekspresikan dalam aktivitas saling mencintai pun cinta tetap akan tumbuh di hati. Kenyataan ini pula yang mengukuhkan bahwa cinta tidak selalu sama dan tak sebangun dengan aktivitas mencintai. Jelas, ini mematahkan mitos selama ini yang meyakini bahwa jika jatuh cinta harus diwujudkan dengan aktivitas mencintai bernama pacaran. Ya, namanya juga mitos, bukan fakta, Bro . Lihat aja, mereka yang masih melajang sampe tua, bukan berarti tak memiliki rasa cinta. Mereka pasti memiliki cinta kok. Cuma karena cinta tak mesti dieskspresikan dengan aktivitas mencintai seperti pacaran atau juga pernikahan, ya tak membuatnya sakit tuh. Cuma mungkin gelisah aja karena nggak bisa berbagi cinta dengan seseorang yang bisa menyambut cintanya. Tapi tak membuatnya sakit.

Namun meski demikian, bukan berarti cinta tak boleh diekspresikan sama sekali dalam aktivitas mencintai. Nggak juga. Ini sekadar ngasih gambaran bahwa kita jangan keburu menyimpulkan bahwa pacaran adalah jalan pintas untuk mengekspresikan cinta. Nah, kalo pun harus diekspresikan dengan aktivitas saling mencintai, tentunya hanya wajib di jalan yang benar sesuai syariat. Tul nggak? Yup, hanya melalui ikatan pernikahanlah cinta kita bisa dan halal diekspresikan dengan kekasih kita. Begitu lho. Mohon dicatat dan diingat ya. Makasih.

Jatuh cinta nggak dilarang

Sobat muda muslim, jatuh cinta itu nggak dilarang kok. Lagian, siapa yang bisa melarang orang lain untuk tidak jatuh cinta. Nggak bakalan bisa. Namun, jangan pula kemudian nganggep bahwa mentang-mentang jatuh cinta nggak dilarang, lalu mengekspresikannya dengan pacaran jadi sah-sah aja. Ah, kalo itu sih udah tulalit atuh. Beda euy , antara cinta dan aktivitas mengekspresikan cinta, Bro . Oke?

Oya, boleh tuh jatuh cinta meski nggak perlu orang yang kita cintai itu mencintai kita juga. Artinya, cinta tak selalu harus saling bersambut. Jadi, kalo kita jatuh cinta kepada seseorang, tak perlu orang tersebut juga mencintai kita. Namun, seringkali kita nggak siap untuk menerima “penolakan” dari orang yang kita cintai. Sakit. Bahkan bisa sakit banget kalo orang yang nolak dekat dengan kita. Kita setengah mati mencintainya, eh, dia malah setengah hidup menolaknya. Itu kan kagak nyetel namanya. Siapa yang gondok? Tentu saja dua-duanya. Lho kok? Iya. Pertama, orang yang mencintai merasa bertepuk sebelah tangan, dan tentunya kecewa begitu tahu rasa cintanya tak berbalas. Kedua, orang yang menolak juga kecewa, karena kok bisa-bisanya dicintai oleh orang yang tak dicintainya. (Wacks, jangan nyindir dong!)

Jadi, kalo udah jatuh cinta, nikmati saja tanpa harus diekspresikan dengan pacaran. Caranya gimana? Ehm, ketika kita jatuh cinta, jangan keburu geer dan tergesa untuk ungkapkan cinta. Itu bisa berbahaya bagi yang belum bisa menerima beban kecewa. Emang sih perasaan cinta itu nggak bisa ditahan-tahan. Nggak bisa dihalangi dengan kekuatan apa saja. Bahkan adakalanya nggak bisa digeser-geser en dipindah-pindah ke lain hati (emangnya pot bunga, digeser-geser?). Maka jangan heran kalo kita ingin rasanya buru-buru menuntaskan rindu kita kepada seseorang yang membuat kita nggak nyenyak tidur siang-malam. Kita ingin agar perasaan kita benar-benar saling berbalas. Kita ingin jadikan ia sebagai dermaga tempat cinta kita berlabuh. Sampai tanpa sadar bahwa kita dikendalikan oleh cinta, bukan kita yang mengendalikannya.

Tapi saran saya, jangan keburu “geer” deh kalo tiba-tiba kamu punya rasa cinta kepada lawan jenis. Kenapa? Karena kalo kamu belum kuat menahan bebannya, bisa blunder. Kamu bisa sakit hati. Bayangin aja ketika kamu terlalu “geer” alias gede rasa, kamu nekatz menembak teman gadismu. Kita bisa dan siap ngincer lalu nembak lawan jenis kita. Tapi, seringkali di usia sepantaran kamu yang masih ABG dan “pensiunan” ABG sering nggak siap menerima kenyataan, gitu lho.

Kok bisa? Hmm.. mungkin karena kurang pengalaman kali ye (atau bisa juga nggak pede), jadinya pas ditolak, teroris bertindak (idih, serem banget). Iya, saya pernah baca di koran bahwa ada seorang remaja laki yang cintanya ditolak gadis pujaannya, dan langsung bertindak dengan mengerahkan teman-temannya untuk meneror si gadis dan pacar pilihannya hingga ada korban jiwa. (hmm.. itu sih namanya cinta berbuah tahlilan!)

Jadi intinya, boleh saja jatuh cinta. Nggak ada yang larang kok kalo kamu jatuh hati. Wajar aja lagi. Tapi, mbok ya jangan keburu geer gitu lho, hingga menafsirkan kalo cinta harus diwujudkan dengan bersatunya dua hati, lalu tergesa ungkapkan cinta. Padahal, seringkali di antara kita yang masih bau kencur ini nggak siap dengan kenyataan. Dalam bayangannya, cinta itu harus bersatu, cinta itu harus saling memiliki, itu sebabnya mau tidak mau cinta itu harus berbalas. Padahal, banyak kasus berakhir dengan kecewa. Itu karena kita ngotot cinta sama si dia, sementara si dia juga ngotot nolak kita. Walah, itu namanya percintaan sepihak. Jadi, jangan cepet geer ya!

Sekarang saya mau tanya, memang kalo kamu suka sama seorang seleb, kamu cinta sama seorang seleb, dan kamu sayang sama dia, kudu juga berbalas? Nggak juga kok menurut saya. Kenapa? Begini, kamu yang cewek cinta nggak sama Nicholas Saputra? Senang banget kan kalo kebetulan ketemu dan diajak makan bareng? Wuih... tapi sejauh ini, pernah nggak melamunkan supaya dia jadi kekasihmu? Mungkin sebagian dengan pede dan gagah berani menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan ini, tapi sangat boleh jadi yang lain malah menjawab: Mimpi kali yeee! (ini tergantung bargaining position -nya sih)

Pendam saja dulu rasa itu

Waktu sekolah, saya juga punya rasa cinta kepada seorang gadis teman satu sekolah, tapi karena saya tak berani mengungkapkannya, saya cukup jadikan ia sebagai “objek” kreativitas saya dalam puisi dan cerpen. Selama tiga tahun saya cuma memendamnya dalam hati rasa cinta kepada gadis satu sekolah itu. Saya hanya bisa cerita kepada teman saya dan si dia sendiri nggak pernah tahu kalo sedang “dicintai” sama saya. Ajaib memang. Di sini saya merasa mencintai tanpa bersalah dan enjoy aja lagi. Saya bisa menikmatinya dan menerjemahkannya dalam puisi. Ya, saya merasa bahagia saja dalam mencintai meski dia sama sekali nggak tahu.

Tapi.. setelah saya mulai nekat mengungkapkan cinta, barulah muncul masalah. Salah satunya ya rasa bersalah di antara kami. Ternyata eh ternyata ia sama sekali tak mencintai saya, dan menganggap sekadar teman biasa. Rasanya langit bagai runtuh menimpa saya (kerena sudah terlanjur mencintai sepenuh hati. Kandas deh!). Ya, saya merasa bersalah karena saya begitu besar mencintai dia (padahal dulu asyik-asyik aja tuh saat belum diungkapkan perasaan cinta itu). Dia juga mungkin merasa bersalah karena telah begitu halus menolak cinta saya. (KLBK alias Kenangan Lama Bangkit Kembali neh. Gubrak!)

Jadi intinya, nikmati saja dulu cinta itu dengan diam-diam. Tunggu saatnya tiba. Saat di mana kita sanggup menahan beban dan siap ditelan kenyataan. Biarkan ia tumbuh subur dulu. Kalo pun kemudian harus kecewa, ya itu risiko. Tapi minimal, kita pernah mencintai seseorang yang bisa memekarkan kuncup di hati kita dan membuat kita jadi kreatif tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lagian bukankah Bang Ebiet pernah bersenandung, “Sebab cinta bukan mesti bersatu...” Ehm, pantesan seorang kenalan saya pernah bilang ke saya waktu curhat: “Cinta pertama saya bukan dengan istri saya, tapi saya masih inget sampe sekarang gimana perasaan saya waktu mencintai teman saya itu. Karena itu cinta pertama, tapi ternyata nggak jadi...” Nah lho!

Itu sebabnya, banyak orang sekadar “cinta sepihak” dan memendamnya dalam hati. Karena tak berniat untuk mengungkapkannya. Tapi ternyata aman-aman saja kok. Jelas, ia tidak merasa bersalah. Baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Mungkin ini tipe orang yang seperti digambarkan dalam lagunya Bang Ebiet G. Ade, “Apakah Ada Bedanya”: “Cinta yang kuberi sepenuh hatiku, entah yang kuterima aku tak peduli... aku tak peduli.. aku tak peduli” (Duile.. ini bukan putus asa apalagi patah arang, tapi sekadar mengungkapkan betapa masih ada orang yang sebenarnya ingin total mencintai dan tak peduli dengan balasannya dari orang yang dicintainya. Ini persepsi saya, dan saya ambil sebagian lirik saja dalam lagu itu. Karena saya yakin Bang Ebiet punya maksud lain dengan menuliskan lagu tersebut)

Pacaran itu merugikan

Kamu pasti apal deh lagunya Peter Pan yang sebagian isi liriknya begini nih, “Apa yg kau lakukan di belakangku/Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku/ Apa yang kau lakukan di belakangku/ di belakangku/ di belakangku...” Yup, lagu ini judulnya adalah “Di Belakangku”. Apal kan?

Ehm, rasa-rasanya Ariel nyanyinya berdasarkan pengalaman tuh, mungkin sama seperti pengalaman banyak teman kita yang diterjemahkan dalam bentuk lagu. Pengalaman apa? Hmm... moga-moga saja bener nih. Yup, kayaknya pengalaman diselingkuhi sama pacarnya tuh. Wah, wah, inilah satu satu sisi gelap pacaran. Emang sih, yang udah nikah juga bisa selingkuh, tapi lebih rugi dan konyol lagi masih pacaran malah udah dikadalin sama pasangannya. Belum jadi suami-istri aja udah nggak bisa dipercaya, apalagi kalo udah menyatu dalam pernikahan? Pikir-pikir lagi ye.

Oya, loss pride alias hilang harga diri juga adalah dampak dari pacaran. Kok bisa? Yah, namanya juga pacaran, masih bisa sambung-putus sesukanya. Jadi, ketika bubaran, banyak yang “ember” cerita ke yang lain. Misalnya, “Kamu pacaran sama dia? Jangan mau, dulu pernah sama aku, dia kalo tidur ngiler!” Wacks?

Nah, soal pacaran cukup sampe di sini dulu ya, karena keterbatasan halaman. Pekan depan insya Allah disambung lagi dengan penekanan lebih dalem soal hubungan pranikah tersebut, oke? Pekan ini kita lebih fokus bahas bahwa cinta bisa tumbuh meski tanpa pacaran. Yakin itu. Oke? [solihin]

Mengenal Lebih Jauh Diri Sendiri


Mengenal Lebih Jauh Diri Sendiri


Sebuah pepatah mengatakan, semut di seberang dapat kelihatan tapi gajah di pelupuk mata tidak tampak. Pepatah ini menganalogikan bahwa sering manusia lebih pandai menilai kelebihan dan kekurangan orang lain. Tetapi mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri adalah sebuah pekerjaan sulit dan sering diabaikan manusia.

Allah SWT berfirman, Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan dari pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Al-Fusilat:53)

Ada pula hadis yang walahualam shohih atau tidak mengatakan “Siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah".

Dari firman Allah dan hadis di atas dapat kita simpulkan betapa pentingnya pengenalan terhadap diri sendiri. Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya dalam diri manusia. Kemudian dilanjutkan oleh hadis nabi, siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tihannya. Artinya bila seseorang mengenal dirinya maka ia akan memikirkan penciptaaan dirinya. Siapa lagi yang menciptakan manusia kalau bukan Allah SWT.

Sering manusia tidak mengenali dirinya sendiri, tidak tahu dari mana ia berasal, siapa yang menciptakannya, untuk apa ia hidup dan akan kemana ia setelah meninggal. Maka tidak heran banyak manusia yang mengabaikan dirinya bahkan tidak segan menyiksa dirinya sendri untuk mendapatkan kepuasaan sesaat.

Manusia terdiri dari tiga unsur, ruh, jasad dan jiwa. Ketiganya mempunyai peran yang tidak bisa dipisahkan. Jasad tanpa ruh ibarat sebatang pohon yang mati, layu dan gersang. Binatang memiliki jasad dan jiwa, tetapi ia tidak memiliki ruh. Manusia jelas berbeda dengan binatang. Dan Allah telah melebihkan manusia dari makhluk ciptaa-Nya yang lain, manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna.

Apakah kesempurnaan ini menjadikan manusia berfikir?. Tidak perlu dulu tentang yang lain, tetapi berfikir tentang penciptaanya. Berfikir tentang hakekat dirinya. Tentang jasad sempurna dan sebaik-baik bentuk yang diciptakan Allah untuknya. Tentang jiwa dan ruh yang tidak tampak tapi mengendalikan hampir seluruh keputusan yang diambil manusia.

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah dimuka bumi ini. Ia memiliki kombinasi sifat syetan dan malaikat. Salah satu sifat tersebut bisa mendominasi kehidupan manusia. Jika sifat syetan yang mendominasi, maka ia akan berprilaku seperti syetan. Dia menjadi manusai yang jahat, pendendam, sombong, angkuh, penipu ingkar kepada Allah, dan sifat buruk lainnya. Sebaliknya jika sifat malaikat yang mendominasinya, maka ia menjadi manusia yang baik, taat dan tunduk kepada Allah.

Walaupun jika didominasi oleh kedua sifat itu, tidak pula lantas manusia akan menjadi syetan atau malaikat. Dia tetaplah manusia, hanya saja prilakunya yang tampak seperti syetan atau malaikat.. Manusia bebas memilih, prilaku manakah yang menjadi keinginanya. Pilihan itu hanya bisa diambil jika manusia tahu mengenai dirinya, baik kelebihan maupun kekuranganya, sifat buruk maupupun sifat baiknya.

Jika tidak menggunakan akalnya, bisa juga manusia berprilaku seperti binatang, yang hanya hidup untuk kepentingan perutnya saja. Tapi kadang kala manusia lebih buruk dari binatang. Jika binatang hanya memenuhi kebutuhan perutnya hari itu saja. Tetapi manusai tidak, kadang sudah terpenuhi kebutuhan perutnya untuk beberapa tahun ke depan, tetap saja terus menjajah dan merampas sesuatu yang bukan menjadi haknya. Kita tentu tidak ingin seperti binatang, apalagi lebih renda dan parah dari binatang.

Dari mana awal mulanya diri ini?

Dalam Al-Quran dikatakan, bahwa kita hanyalah seonggok jasad yang berasal dari air mani yang hina. Tidak ada satu tanganpun di dunia ini yang mampu menciptakan manusia. Jika kita sadar akan hakikat diri kita, bahwasanya kita adalah makluk yang lemah, jika Allah tidak menolong kita, kita bukanlah apa-apa dan bukan pula siapa-siapa.

Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keraguan tentang hari berbangkit, maka (pikirkanlah) bahwa Kami menciptakan kamu (dengan proses yang pada mulanya): a. dari tanah, b. kemudian dari setetes air mani, c. kemudian dari segumpal darah (yang membeku), d. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiaanya dan (ada pula) yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepadamu (betapa hebatnya ciptaan Kami), e. kemudian (daging yang segumpal itu) Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak (aturan) Kami sampai waktu yang ditentukan (lebih kurang 9 bulan), f. kemudian Kami keluarkan kamu (dari rahim ibumu) sebagai bayi, g. kemudian kamu meningkat dewasa, h. (kemudian) ada diantara kamu yang diwafatkan (waktu masih kuat bertenaga) dan ada pula sampi tua bangka, sehingga ia tidak ingat apa-apa. Dan (sebagai bukti berbangkit pula) kamu melihat bumi kering gersang, kemudian apabila telah Kami sirami dengan air (hujan), bumi itu hidup dengan subur kembli menumbuhkan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan nan indah menawan. (QS. Al-Hajj:5)

Sesungguhya kita dapati diri ini dalam kesesatan dan kejahiliyahan, kemudian Dia beri kita petunjuk. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kegelapan, kemudian Dia beri kita cahaya. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kebingungan, kemudian Dia beri kita jalan keluar. Sesungguhnya kita temui diri ini dalam kelemahan iman, kemudian Dia beri kita keteguhan. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kehinaan dan kerendahan, kemudian Dia beri kita kemuliaan dan izzah serta iffah. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kebodohan, kemudian Dia beri kita lentera ilmu. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam keadaan telanjang, kemudian Dia beri kita pakaian.

Jika begitulah proses kelahiran kita, lantas mengapa kita menjadi lupa diri? Menjadi manusia yang tidak tahu diri? Menjadi manusia yang melupakan hakikat penciptaan diri kita, kita hanyalah berasal dari seonggok tanah dan pasti akan kembali ke tanah. Siapun orangnya, rakyat jelata atau pejabat tinggi negara, cantik atau jelek, lahir di barat maupun di timur. Kita terlahir dalam keadaan sama, derajat kita sama di hadapan Allah SWT, Zat yang menciptakan kita.

Kadang kita tidak segan menyiksa diri sendiri dengan mengabaikan hak-hak jasad, ruh dan akal. Yang paling sering dilupakan adalah hak ruh. Seperti sebuah tanaman yang tidak pernah disiram, lama-lama akan layu kemudian mati. Begitu pula jika ruh tidak pernah diberi makanan yang bergizi, tidak pernah disuapi vitamin iman, suatu saat akan gersang, dan tidak mustahil kelak akan mati. Bila ruh sudah mati, maka tidak akan ada lagi fungsinya jasad. Jasad akan tinggal seonggok jasad. Kematian ruh adalah awal dari kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat.

Mengenal Allah.

Mungkin kita pernah bertanya, “Adakah Allah, dimanakah Allah” jaawabanya singkat sekali, Allah ada dan sangat dekat degan kita. Lebih dekat dari urat nadi kita sekaipun. Dia tidak pernah tidur, tidak akan pula mati. Jika kita kembali kepada hadis yang telah disebutkan di atas, maka pengenalan terhadap diri dan Allah adalah sebuah rangkaian yang tidak bisa dipisahkan, karena menurut hadis tersebut, “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Mengapa kita harus mengenal Allah? Dengan mengenal Allah akan memberikan banyak kebaikan, diantaranya, ketenangan, meningkatkan iman dan taqwa. Pengenalan kita kita dengan Allah akan menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya. Dengan kekuatan cinta itu kita menjalani segal perintah-Nya dan menjauhi segal larangan-Nya.

Banyak cara untuk maÂ’rifat (kenal) dan mahabbah (cinta) kepada Allah.. Diantaranya menurut Dr. Irwan Prayitno dalam buku kepribadian muslimnya adalah dengan akal dan fitrah, pendengaran dan penglihatan, alam semesta, binatang, manusia dan hewan, pengenalan jiwa serta mukzizat.

Dalam sebuah perjalanan panjang kita dapat melihat alam semesta terbentang indah, tersusun rapi. Siapakan yang membentangkan dan menyusun itu semua. Adalah tangan manusia mampu melakukannya jika tidak ada Zat yang melakukannya?

Terlalu banyak sarana untuk mengenal Allah, hanya saja sejauh mana keinginan kita mengenal kebesaran Allah. Memang Allah tidak mungkin dilihat secara fisik, tetapi kebaradaanya dapat kita rasakan dalam setiap tarikan nafas kita.

Mengenal diri sendiri

Tiada orang yang mengenal diri kita kecuali kita sendiri ! Apabila kita melihat ke dalam diri dan belum menemukan sesuatu yang sesuai, maka sebenarnya kita sedang mencari identitis Coba renungkan sejenak tentang beberapa hal berikut ini :

Dari mana anda datang?
Kemana anda pergi?
Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini?
Apakah sebenarnya bahagian dan apakah sebenarnya derita?
Apakah kekuatan anda?
Apakah kelemahan anda?
Apakah cita-cita anda?
Apakah kehendak anda?kuatan anda?Apakah kekuatan andada?

Jika kita mampu menjawabnya, maka dapat dikatakan kita mengenal sepenuhnya diri dan hakikat kehidupan kita. Tapi tidak jarang manusia amat kesulitan menjawab pertanyaan itu. Kita perlu menyediakan waktu sejenak mererungi keberadaan kita, mengenali tidak saja secara fisik diri kita, tetapi juga segala faktor eksternal dan internal diri yang akan menghantarkan kehidupan kita kepada sebuah titik terbaik tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat.

Cobalah menganalisis secara jujur perilaku, tabiat dan kepribadian kita. Hati nurani akan berkata jujur. Bila kita temukan kekurangan tidak ada salahnya kita mencoba memperbaiki diri. Bertanya kepada orang lain merupakan langkah yang positif untuk mengenali lebih jauh diri kita. Penilaian kita dan orang lain akan membantu kita menjadi manusia yang mendekati kepada sifat malaikat.

Memperbaiki dan senantiasa melakukan perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup ini. Karena perubahan tidak selalu memperbaiki sesuatu, tetapi untuk menjadi lebih baik kita mesti berubah. Proses pengenalan diri tidak boleh berhenti pada sebuah titik jenuh. Tidak ada batasan dalam tempat ruang dan waktu. Kenalilah terus diri kita, temukan segala potensi dan kekurangan.

Sadari hakikat keberadaan diri kita di dunia. Jika kita memahami itu semua, maka mata hati kita akan mudah terbuka mengenali Rabb yang menciptakan kita.Tidak ada lagi hijab yang aka nmebatasi ruang diskusi kita dengan–Nya. Yang ada adalah bagaimana kesungguhan kita memanfaatkan segala potensi yang ada dan meminimalisir segala kekurangan untuk tetap dekat dengan Allah, mengapai cinta-Nya, bekerja ikhlas untuk-Nya. Insya Allah kehidupan kita tidak akan sia-sia. Kita aka nmenjadi manusia yang produktif, prestatif, inovatif.